Guru Sebagai Murabbi Al-Ruh

Salah satu unsur penting dalam pendidikan adalah guru. Guru dalam pendidikan memiliki peran dan fungsi yang sangat vital, utamanya dalam perkembangan peserta didik. Kegiatan belajar mengajar (KBM) tanpa ada gedung yang memadai masih bisa berjalan. Begitu juga tanpa ada sarana yang cukup seperti papan tulis, kelas yang bagus juga masih bisa berjalan. Tapi KBM dalam pendidikan tidak akan berjalan tanpa hadirnya seorang guru. Oleh sebab itu guru sangat menentukan maju tidaknya dan sukses tidaknya perjalanan sebuah pendidikan.

Tulisan ini tidak berpretensi mengenyampingkan peran unsur yang lain, seperti metode, kurikulum, sarana, serta organisasi dalam di lembaga pendidikan. Sebab unsur yang disebutkan terakhir walapun ada, tanpa ada guru juga tidak ada yang namanya pendidikan. Pendidikan dengan modal guru dan peserta didik tetap akan berjalan.

Namun fenomena akhir-akhir ini, dalam amatan penulis sudah terjadi pendangkalan makna guru sebagai pendidik. Guru yang semestinya harus dihargai, dihormati dan ditiru tingkah lakunya, saat ini sudah mengalami penurunan. Seperti kurang menghargai dan menghormati posisi guru. Guru juga kurang didengarkan pembicaraannya, kurang diikuti sikap dan tindak tanduknya. Mengapa demikian?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, butuh pemikiran mendalam dan kehati-hatian. Menurut amatan penulis, ada beberapa hal mengapa terjadi pendangkalan makna,posisi, sikap, peran guru.

Guru sebagai murabbi al-ruh

Dalam kitab Ta’lim al Mutaallim disebutkan, bahwa orang tua adalah sebagai murabbi al jasad. Sedangkan guru sebagai murabbi al ruh. Orang tua yang dimaksud di sini adalah orang tua biologis yang melahirkan anak yang salah satu fungsinya adalah murabbi al jasadMurabbil al jasad dimaknai sebagai orang yang berkewajiban memberi nafkah lahir, membesarkan, menjaga kesehatannya dan menyelamatkan nyawanya dari gangguan / kejahatan yang mengancam daari luar.

Sedangkan tugas guru adalah murabbi al ruh. Maksudnya adalah orang yang bertanggung jawab  terhadap perkembangan jiwanya. Yang bertugas mengisi  dan mendidik otaknya dengan pengatahuan yang benar, mengisi hatinya dengan akidah, dan ruhnya dengan akhlakul karimah. Artinya hal-hal yang berkaitan dengan perkembangan batin anak didik adalah tanggung jawab guru.

Namun fenomena yang berkembang saat ini, tugas guru yang begitu mulia tersebut hanya dijadikan tugas professional yang bersifat instrumental. Banyak tugas- tugas mulia guru seperti memberikan pemahaman materi ajar misalnya, hanya ditujukan agar memenuhi Standar Kompetensi (SK) yang ujung-ujungnya dilakukan agar nilai ujian sampai pada target Standar Ketuntasan Minimal (SKM) semata.

Contoh yang lain, guru dituntut mengajar sesuai jam dan jadwal, guru dituntut hadir tepat waktu. Hadir tepat waktu dilakukan agar memenuhi persentasi wajib hadir ke lembaga. Jika diniati dengan baik maka menjadi baik. Tapi faktanya yang banyak hanya berorientasi material, yakni agar tidak mengurangi gaji bulanan dan seterusnya. Di samping itu guru harus tampil rapi. Tampil rapi hanya dengan motivasi agar tidak kalah saing dengan guru lain dan agar dianggap guru profesional. Sehingga kesan yang berkembang guru tidak jauh dengan selebritisnya sekolah. Yang lebih ironis lagi, ada kasus guru berpacaran dengan anak didiknya bahkan ada yang mencabulinya. Naudzubillah.

Secara garis besar setidak-tidaknya ada dua faktor penyebab pergeseran menurunnya penghargaan peserta didik terhadap guru. Pertama, keilmuan guru yang kurang memadai. Kedua, sikap guru yang tidak mencerminkan seorang pendidik. Ketiga, Lemahnya semangat juang (ruhul jihad). Sedangkan faktor internalnya di antaranya: pertama, degradasi moral peserta didik. Kedua, biaya pendidikan yang terlalu mahal. Ketiga, anggapan guru sebagai pekerja.

Semestinya guru dalam sebuah pendidikan mengembalikan posisinya tidak hanya sebagai pengajar yang hanya memindahkan ilmu pengetahuan kepada peserta didik (transfer of knowledge) yang tujuannya adalah pemahaman materi ajar. Apalagi guru mengajar hanya menargetkan materi selesai sesuai SK dan KD. Materi ajar selesai diajarkan sesuai silabus dan SKM semata. Tapi lebih dari itu, guru harus berfungsi sebagai murabbi.

Peran Murabbi Dalam Pendidikan

Murabbi dimaknai sebagai pendidik. Pendidik tidak hanya menyampaikan ilmu, memberikan pemahaman dan setelah paham tugas guru dianggap selesai. Tapi lebih jauh, murabbi bertugas mendidik kecerdasan pikiran, watak  dan mental. Jadi tugas guru tidak hanya di dalam kelas melainkan di luar kelas pun ia bertanggung jawab terhadap nasib anak didiknya khususnya di bidang akhlaknya. Oleh sebab itu murabbi harus member contoh yang baik (uswah hasanah) di kalangan anak didiknya. Karena apa yang diperbuat oleh guru baik dari segi ucapan, tindakan maupun sikap akan diikuti, ditiru, dan dijadikan rujukan olyeh anak didiknya. Murabbi tidak sekedar mencerdaskan otaknya namun juga mentalnya. Dengan demikian tentu seorang guru harus mendidik muridnya dengan ilmu dan kasih sayang dengan penuh kelembutan dan ketulusan.

Seorang murabbi mengajar bukan lagi karena tuntutan profesi tapi lebih jauh karena panggilan moral untuk mencapai ridla dari Allah. Oleh sebab itu orientasi murabbi dalam mengajar tidak sekedar kesuksesan duniawi tapi juga ukhrawi. Karena apa yang dilakukan murabbi pada muridnya akan dimintakan pertanggung jawaban di sisi Allah di akhirat kelak.

Jika guru memenuhi kelengkapan mengajar seperti perangkat, RPP, silabus, absensi, nilai dan seterusnya hanya karena kebutuhan administratif dan tuntutan profesi semata, maka lagi-lagi guru sudah terjebak pada tindakan instrumental yang bersifat sementara dan materialistis. Tidak ada bedanya lagi guru dengan buruh. Sehingga tidak heran kalau guru yang demikian kurang dihargai oleh anak didiknya. Akhirnya, sudah saatnya guru mengajar bukan lagi berorientasi materi (money oriented) karena kepentingan uang namun berorientasi moral (moral oriented), demi menyelamatkan akidah, ilmu dan akhlak anak didik. Wallahu’alam bis shawab.ss

Sumber : http://manuruljadid.sch.id/main/index.php/pendidikan/82-guru-sebagai-murabbi-al-ruh